GPAI (Gerakan Peduli Anak Indonesia)

GPAI (Gerakan Peduli Anak Indonesia)


GPAI adalah Gerakan perjuangan untuk memberikan cinta dan kasih sayang kepada anak Yatim dan Dhua'fa (anak/orang yang tidak mampu) dalam menempuh pendidikan dan membiayai hidupnya sehari-hari.

Diantara langkah dan gerakan yang dilakukan adalah dengan cara mengajak orang banyak baik dari kalangan pengusaha, PNS, dll,  untuk mau menyumbangkan dan men-sedekahkan sebagian hartanya di jalan Allah Swt.



Harta yang di sedekahkan di jalan Allah tidak akan berkurang malah bertambah-dan bertambah .....subhanallah___________ 

BERSEDEKAH DI JALAN ALLAH  TIDAK MENGURANGI HARTA

    

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah dan ucapan yang paling bermanfaat adalah ucapan yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits yang shahih dari Rasulullah  yang merupakan wahyu Allah . Allah  berfirman:

{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS asy-Syuura: 52).

Kisah berikut ini patut menjadi renungan bagi orang-orang yang beriman tentang keutamaan bersedekah di jalan Allah :

Dari ‘Aisyah  bahwa keluarga Rasulullah  pernah menyembelih seekor kambing, kemudian disedekahkan kepada orang-orang miskin, lalu Rasulullah  bertanya: “Apa yang tersisa dari (daging) kambing tersebut?”. ‘Aisyah  menjawab: “Tidak ada yang tersisa/tertinggal darinya kecuali (bagian) bahu (dari) kambing tersebut”. Maka Rasulullah  bersabda: “(Itu berarti) semua (daging) kambing tersebut tertinggal (tetap dan kekal pahalanya) kecuali (bagian) bahunya

Renungkanlah nasehat agung dari Nabi yang mulia  ini! Bagaimana beliau menjadikan harta yang disedekahkan di jalan Allah  itulah yang kekal dan menetap pahala kebaikannya bagi manusia, meskipun secara kasat mata harta tersebut berkurang. Ini merupakan penjabaran makna firman-Nya:

{مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ}

“Apa saja yang ada di sisimu (wahai manusia) akan habis, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal” (QS an-Nahl: 96)

Pada saat orientasi pandangan mayoritas manusia hanya terbatas pada perkara-perkara lahir yang nampak dalam pandangan mereka, sebagai akibat dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa dunia dalam diri mereka. Allah  berfirman:

{يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ}

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS ar-Ruum:7).

Oleh karena itu, mereka menilai dengan pemikiran materialistis bahwa sedekah dan infak akn mengurangi bahkan menghabiskan harta. Mereka lupa bahwa Allah  yang di tangan-Nyalah segala perbendaharaan langit dan bumi berfirman:

{وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}

“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS Sabaa’:39).

Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat

Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah  bersabda:

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ»

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya”

Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah  jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hal-hal yang akan merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah  di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata”

Perlu diingatkan di sini bahwa arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” bukanlah seperti anggapan orang-orang yang bodoh bahwa harta yang disedekahkan akan langsung diganti dengan jumlah yang lebih besar di dunia. Anggapan seperti ini timbul dari sifat cinta dunia yang berlebihan, sehingga menjadikan orang yang memiliki anggapan ini tidak segan-segan menjadikan amal ketaatan sebagai tunggangan untuk meraih ambisi duniawi dan keinginan hawa nafsu, na’uudzu billahi min dzaalik.

Maka arti yang benar dari hadits di atas adalah tambahan keberkahan harta di dunia dan ganjaran pahala yang berlipat ganda di akhirat nanti.

Cukuplah ini sebagai motivasi bagi orang-orang yang beriman yang meyakini perkara yang gaib (tidak tampak di mata mereka), berupa balasan kebaikan di surga dan ancaman siksa neraka di akhirat kelak.

Inilah salah satu sifat utama orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah , sebagaimana firman-Nya:

{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْب وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون. وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ. أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}

“(Orang-orang yang bertakwa yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung” (QS al-Baqarah: 3-5).

Rasulullah  mengisyaratkan makna ini dalam sabda beliau: “Lindungilah (dirimu) dari (siksa) Neraka (dengan bersedekah) walaupun (hanya) dengan sepotong kurma, kalau kamu tidak mendapati sepotong kurma maka dengan kalimat (perkataan) yang baik”.


"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui. " (Q.S. al-Baqarah [2]: 261)

Dari ayat di atas jelaslah bahwa setiap harta yang kita sedekahkan di jalan Allah akan dilipat gandakan menjadi sekian banyak (tujuh ratus kali lipat). Seandainya setiap manusia mengerti dan memahami ayat ini niscaya mereka semua akan menjadi manusia dermawan. Bagaimana tidak, untuk masalah dunia saja orang beramai-ramai investasi untuk mendapatkan keuntungan yang paling banyak hanya dua sampai tiga kali lipat. Apalagi kalau sampai mereka mengerti besarnya keuntungan berdagang dengan Allah. Masya Allah, tentu kita semua akan berlomba-lomba untuk mencapainya. Terlebih kalau kita memahami hadits berikut ini.

"Abu Hurairah r.a. berkata: Bersabda Nabi SAW, "orang yang berusaha membantu kepada janda dan orang miskin, bagaikan orang yang berjihad fisabilillah, bahkan bagaikan orang yang tidak pernah berhenti puasa dan bangun shalat malam. " (H.R. Bukhari-Muslim)

Logika kita sering salah dalam hal menafkahkan harta. Kita selalu menganggap bahwa kalau kita sedekah berarti harta kita berkurang. Sekali-kali tidak. Justru dengan bersedekah itulah harta kita bertambah, sebab harta kita yang kekal sesungguhnya adalah harta yang kita nafkahkan itu. Harta yang kita timbun, kita gunakan untuk bersenang-senang itulah harta yang fana, yang hanya sekadar numpang lewat. Padahal harta tersebut bila kita nafkahkan manfaatnya sungguh luar biasa, seperti hadits Nabi SAW: "Adi bin Hatim r.a. berkata: Rasulullah SAW telah bersabda, "Jagalah dirimu dari api neraka, walau dengan sedekah separuh biji kurma. " (H.R. Bukhari-Muslim)

Alangkah Maha Pemurahnya Allah dan Maha luas rahmat-Nya. Bayangkan, sedekah yang hanya berupa separuh buah kurma saja mampu memberikan manfaat yang luar biasa, apalagi bila lebih. Masya Allah. Melihat demikian besarnya manfaat sedekah, marilah kita tanamkan pada diri dan keluarga kita untuk menjadi insan yang suka menafkahkan hartanya di jalan Allah. Tidaklah perlu khawatir harta kita akan habis. Belum pernah ada di dunia ini orang jatuh miskin karena terlalu dermawan. Mari kita simak hadits berikut ini:

"Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Tiada berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tiada akan menambah bagi seseorang yang suka memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seorang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya. " (H.R. Muslim)

Tidak perlu lagi kita ragu-ragu untuk menafkahkan nafkahkan kelebihan rezeki kita. Kuncinya adalah hati yang ikhlas dengan tiada mengharap balasan kecuali hanya ridla Allah semata-mata. Seseorang yang banyak memberi berarti banyak menanam, dan ini berarti ia akan banyak pula menuai.Dan tidak ada satu pun dari biji yang ia tanam itu akan gagal panen kalau dilandasi dengan iman dan ikhlas.

Banyak memberi ini adalah salah satu rezeki besar yang dianugerahkan Allah kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Semua rezeki berasal dari Allah, kemudian sebagian dari karunia-Nya itu dikembalikan kepada Allah agar mendapat ridla dan rahmat-Nya. Tidak ada orang yang suka memberi kecuali karena ilham yang Allah berikan kepadanya.

sun2finez@yahoo.com  

Tidak ada komentar: